Kreasi derivatif berbuah bencana

Jumat 16 April 2010 Securities Exchange Commission (SEC) melayangkan tuntutan kepada Goldman Sachs, akibatnya Dow Jones pun lunglai pada hari itu. Seperti sudah diduga, IHSG juga ikut merosot tajam sepanjang hari Senin, 2 minggu lalu karena efek ini.
Dalam tuntutannya, Bapepam Amerika ini mengatakan kalau salah satu emiten paling untung dalam sejarah Wall Street ini telah melakukan fraud karena tidak mengungkapkan informasi semestinya ketika menawarkan collateralized debt obligation (CDO) sintetis pada akhir Februari 2007.
Tuntutan SEC ini berkaitan dengan peran Goldman Sachs sebagai arranger produk derivatif kompleks yang nilainya berhubungan dengan portofolio obligasi beragun kredit perumahan (mortgage-backed bonds).



Untuk tujuan ini, Goldman Sachs menggu­nakan jasa ACA Management untuk seleksi sekuritas beragun kredit perumahan mana saja yang akan dimasukkan dalam portofolio.
Sekuritas-sekuritas itu bukan akan dibeli, melainkan hanya untuk menjadi referensi dari portofolio bernilai US$1 miliar yang dinamakan ABACUS 2007-AC1. Nilai ABACUS akan mengikuti nilai portofolio referensi ini.

Rating triple A

Inilah yang dimaksud dengan CDO sintetis. Jika para pengutang kredit perumahan membayar angsurannya, sekuritas beragun pembiayaan perumahan itu akan naik harganya dan nilai ABACUS pun ikut meningkat. Beberapa perusahaan pemeringkat begitu optimistis atas produk derivatif ini sampai memberikan rating tripel A. Sampai di sini belum ada persoalan.

Untuk pekerjaan pemilihan obligasi yang akan dimasukkan dalam portofolio referensi ABACUS, ACA Management yang dikenal sebagai konglomerat berpengalaman dalam investasi berbasis pembiayaan perumahan bekerja sama dengan hedge fund Paulson & Company.

Dalam pengakuannya, eksekutif Paulson yang terlibat dalam proyek ini mengakui telah menyarankan 123 sekuritas untuk dimasukkan dalam portofolio. Setelah sejumlah pertemuan intensif antara ACA dan Paulson, sebanyak 68 sekuritas ditolak dan 55 sekuritas diterima sebagai bagian dari 90 sekuritas dalam portofolio referensi.

Menariknya, Paulson yang mempunyai andil dalam pemilihan sekuritas ini justru melakukan short (jual) atas portofolio itu. Untuk produk derivatif yang selalu bersifat zero-sum atau bernilai nol, ada yang mengambil posisi short adalah biasa. Tanpa ada pihak yang mengambil posisi ini, tidak akan ada transaksi.

Tanpa transaksi, tidak ada komisi untuk Goldman Sachs sebagai arranger. Agar ada yang untung, harus ada pihak yang rugi. Paulson pada saat itu belum dikenal sehingga tidak banyak investor yang mengikuti rekomendasi­nya. Hanya dalam ingatan segelintir investor bahwa dia senantiasa mengatakan kalau sekuritas berbasis kredit perumahan berharga kemahalan.

Di mata Paulson, perbedaan yield sekuritas berkualitas tinggi dan berkualitas rendah terlalu kecil. Dia juga menegaskan bahwa jika dia benar, dia akan kaya raya. Sementara, jika dia salah, kerugiannya hanya 25% selama 3 tahun.

Di sini mulai timbul masalah. Dua pihak yang memilihkan sekuritas un­tuk dimasukkan dalam portofolio refe­rensi mempunyai kepentingan ber­la­wanan. ACA menginginkan seku­ritas yang masuk dalam portofolio ber­kualitas tinggi, sedangkan Paulson sebaliknya. Ternyata keberuntungan berpihak pada Paulson. Pada 2007, John Paulson mengaku meraup keuntungan hingga US$3,7 miliar, sebagian besar dari posisi short atas kredit perumahan kelas dua (subprime mortgage).

Dia juga membeli credit default swap (CDS) yaitu semacam asuransi yang akan melakukan pembayaran jika kredit perumahan itu gagal bayar. Pada 2008, Paulson mengklaim mengelola dana sebesar US$36 miliar dan hedge fund miliknya hampir selalu untung yaitu dalam 15 dari 16 tahun terakhir.

Paulson short, Goldman dituntut SEC pun menuduh investment bank paling terkemuka di Wall Street ini tidak mengingatkan ACA jika Paulson akan mengambil posisi short.
"Jika ACA menyadari posisi yang akan diambil Paulson, sejak awal ACA tidak akan membiarkan Paulson ikut menentukan portofolio referensi," tegas badan pengawas itu.

Namun, Goldman tidak merasa melakukan kesalahan itu. Kesaksian Paulson turut melemahkan tuntutan SEC bahwa mereka telah menyampaikan niatnya itu kepada ACA dan bahwa itulah tujuan utama pertemuan beruntun mereka dan ACA.

Kepada para nasabah dan investornya, Goldman Sachs menyangkal semua tuduhan SEC. Walaupun menerima komisi sebesar US$15 juta, Goldman Sachs menyatakan dirinya juga ikut merugi US$90 juta dari produk ini.

Menurutnya, ACA dan IKB (sebuah bank Jerman), dua pihak yang paling dirugikan dalam produk ini, mem­pu­nyai akses yang sama terhadap isi por­to­folio seperti Paulson. Bukankah pembeli produk ini adalah para investor canggih dan bukan sekelas bank perkreditan rakyat atau koperasi simpan pinjam?

Menyadari lemahnya tuntutan SEC, Goldman Sachs diprediksi akan mudah meng­hadapi tuntutan ini seperti Merrill Lynch dengan Bank of America-nya dan UBS AG melakukan­nya atas tuduhan yang sama yaitu misreprese­ntasi risiko sekuritas yang ditawarkan.

Kedua lembaga keuangan besar ini akhirnya bebas dari tuntutan dengan menggunakan dalih para investor produk-produk investasi mereka adalah investor pintar yang sangat mampu menilai kualitas produk.

Sejatinya, perbedaan pendapat tentang apakah Goldman bersalah sudah terjadi di dalam SEC sendiri. Hanya tiga dari lima pimpinan SEC yang menyetujuinya, sementara dua lainnya menolak untuk memberikan suara alias keputusan bersifat terbelah (split decision).

Pesan dari skandal ini, ingatlah selalu caveat emptor bahwa pembeli harus hati-hati. Watch the downside, and the upside will take care of itself. Gunakan selalu prinsip dasar ke­dua dalam berinvestasi yaitu buy what you know and know what you buy.

Post a Comment

Popular posts from this blog

Exhibition stand designs - best tool for promoting products and services