Modal Intelektual dalam Bisnis


Pakar kepemimpinan nomor wahid Warren Bennis menuturkan apabila organisasi ingin terus bertumbuh konsisten dalam tingkat persaingan nan mahaketat, ada dua tindakan yang harus dilakukan.
Pertama, menciptakan arsitektur sosial yang dapat membangkitkan modal intelektual, Kedua, kepemimpinan adalah kunci untuk merea­lisasikan seluruh potensi modal intelektual. Inti dari pendapat Bennis ini adalah keuntungan sangat besar akan dihasilkan oleh organisasi yang belajar bagaimana memanfaatkan kemampuan otak, kecakapan, ide, dan ino­vasi secara bersamaan dari seluruh karyawan yang dimiliki (The Drucker Foundation, 2005).


Sayang penuturan cerdas Bennis belum begitu menampakkan jejaknya pada korporasi di Indonesia. Perbincangan menyoal modal intelektual masif dilakukan. Namun, ketika pada tahap implementasi terjadi pendangkalan dimana-mana.

Karyawan tetap saja dianggap sebagai salah satu alat pro­duksi yang belum dioptimalkan ke­mampuan kreativitas dan inovasinya. Ba­gai­mana mau di­perlu­kan sebagai modal intelektual manakala persoalan paling mendasar bernama upah saja masih terjadi perang urat saraf antara pengusaha dan pekerjanya?
Beruntung Dexa Medica Group, salah satu konglomerat farmasi asli Indonesia, memiliki pemimpin bernama Ferry Soetikno. Sebagai ge­nerasi kedua dari perusahaan yang didirikan di Palembang pada 1969 oleh orangtuanya Rudy Soetikno, Ferry Soetikno meyakini bahwa pekerja yang selalu diasah intelektualnya akan memberi kontribusi signifikan terhadap perusahaan.

Beruntung pula saya pernah menjadi keluarga besar karyawan Dexa Medica Group, sehingga mengalami sendiri bagaimana strategi Ferry Soetikno mengembangkan modal inte­lektual di perusahaannya.

Agar modal intelektual menemukan kon­tribusinya pada organisasi, kata legenda Jack Welch, tugas dari seorang CEO sangat se­der­hana, yaitu memilih orang-orang yang tepat, mengalokasikan sumber-sumber modal dan menyebarkan ide-ide dengan cepat. Mengamini 'sabda' Jack Welch ini ketika mula pertama menjadi petinggi Dexa Medica, Ferry Soetikno melakukan tindakan yang cukup revolusioner.

Benar bahwa Dexa Medica Group awal 2000-an masih menjadi perusahaan farmasi ping­giran. Namun, jika ingin menjadi pemain besar dan berkiprah tidak sekadar nasional, tetapi juga regional, memilih karyawan yang tepat menjadi tidak terelakkan.

Mulailah Dexa Medica berburu calon-calon pemimpin dari sekolah-sekolah bisnis prestisius, seperti Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, PPM dan Prasetya Mulya. Bahkan untuk level junior manager berpendidikan S2 merupakan prioritas.

Alhasil para junior manager Dexa Medica Group awal 2000-an diisi oleh orang-orang muda berpendidikan tinggi. Idealisme kentara ketika para orang muda ini melakukan rapat. Debat keras, bantah membantah, disertai segudang referensi serta data muncul berkesinambungan.
Seperti kekhasan orang muda lain, bubar rapat bubar pula debat keras dan bantah mem­bantah tersebut. Tidak ada dendam pribadi. Yang muncul kemudian kekompakan tim untuk melakukan eksekusi terhadap kesepakatan yang dihasilkan dalam rapat.

Infrastruktur menjadi alat untuk mem­percepat penumpukan modal sosial ini. Menjadi sebuah persoalan manakala perusahaan sudah diisi oleh orang-orang muda berpendidikan dan idealisme tinggi, tetapi prasarana di dalam tidak mendukung.

Reformasi

Menyadari hal ini, Ferry Soetikno melakukan perubahan besar-besaran menyoal sistem, struk­tur organisasi dan teknologi. Sistem yang adaptif akan memberi ruang kepada karyawan untuk mengembangkan kreativitas dan inovasi. Struktur organisasi yang datar akan memangkas birokrasi. Teknologi modern yang tepat guna akan mempercepat proses bisnis.

Strategi Ferry benar adanya. Orang-orang muda dengan kecerdasan dan idealisme yang didukung oleh infrastruktur memadai akan membawa lari kencang organisasi. Dalam waktu singkat Dexa Medica Group menjadi pemain besar industri farmasi nasional.

Namanya sejajar dengan Kalbe Farma dan Sanbe Farma yang sudah lama menjadi pemimpin pasar. Tidak berhenti di sini. Pasar internasional menjadi target berikut. Menjadi sebuah kewajaran apabila sekarang Dexa mampu mengepakkan sayapnya di 20 negara Asia dan Afrika.

Konsistensi mempertahankan kinerja optimal menjadi tantangan berikut yang harus dijalani oleh Ferry. Apalagi tingkat persaingan farmasi tidak sekadar diikuti pemain-pemain lokal. Perusahaan farmasi multinasional dengan berbagai keunggulan dan pengalaman semakin masif beroperasi di Indonesia.

Untuk mengoptimalkan modal intelektual yang sudah dijalankan, Ferry memperkuat intangible asset yang dimiliki Dexa Medica. Secara konsep, intangible asset tak lain adalah merek, kompetensi inti perusahaan, hubungan dengan konsumen, motivasi karyawan, citra perusahaan, organisasi pembelajar, dan semangat berinovasi.

Banyak cara yang dilakukan Ferry untuk memperkuat intangible asset ini. Salah satu yang menarik adalah inovasi tiada henti dari Dexa. Setelah malang melintang di sektor obat resep maka Dexa mulai merambah sektor obat umum. Pencapaian kinerja dari salah satu produk obat umum bernama Stimuno layak untuk diapresiasi. Stimuno mampu mendobrak pasar produk penambah kekebalan tubuh bagi anak-anak yang sudah puluhan tahun dikuasai pesaingnya.

Perjalanan Ferry dengan Dexa memang masih panjang, sepanjang penetrasi produk-produk Dexa Medica di pasar internasional. Namun, melihat rekam jejak kepemimpinan Ferry, cita-cita Dexa sebagai perusahaan farmasi terkemuka di regional bukan sebuah cita-cita tanpa dasar.
Apalagi Ferry Soetikno memiliki empat dasar nan kokoh sebagai pemimpin: karakter, kompetensi, visi, dan kemampuan menggerakkan orang-orang.

Sumber:  https://web-beta.archive.org/web/20100502045005/http://web.bisnis.com:80/kolom/2id2899.html
Post a Comment

Popular posts from this blog

31 Exhibition Stand Designs by Lansa Brazil

Exhibition stand designs - best tool for promoting products and services