Optimisme, Asset Tersembunyi

"While we may not be able to control all that happens to us, we can control what happens inside us."
Benjamin Franklin


Suatu hari seorang teman bercerita mengenai perjalanannya dengan kereta api (KA) kelas ekonomi. Memang teman saya ini termasuk dari golongan menengah ke bawah yang merantau ke Jakarta untuk mengadu nasib.



Biasanya setiap kali ada libur panjang, misalnya Lebaran, dia akan kembali ke kota asalnya di daerah Jawa Timur. Karena keterbatasan biaya, dia akan berhemat dengan naik KA kelas ekonomi.

Menurut cerita teman saya, jika kita naik KA kelas ekonomi, kita harus bersiap-siap untuk berkeringat ria karena kereta tersebut tidak memakai AC. Selain itu, kadangkala para penumpang lain membawa barang bawaan yang menimbulkan bau menyengat. Bahkan jangan kaget, jika Anda menjumpai penumpang yang membawa ayam hidup untuk oleh-oleh pulang kampung.

Jadi, bisakah Anda bayangkan suasana dalam gerbong kereta api ekonomi? Pengap, panas, penuh bau-bauan keringat yang bercampur dengan bau barang bawaan. Dan bayangkanlah Anda harus menempuh perjalanan lebih dari 10 jam dengan kondisi seperti itu.

Namun, yang lebih menarik adalah, biasanya selalu ada orang yang lewat sambil menyemprotkan pengharum ruangan di antara kursi-kursi penumpang, kemudian meminta upah dari 'hasil usahanya' itu. Tentu saja teman saya menolak memberinya uang karena dia merasa tidak pernah meminta jasa orang tersebut untuk menyemprotkan pengharum ruangan.

Sekilas, orang-orang seperti ini memang menyebalkan dan sering kita jumpai di sekitar kita dalam berbagai bentuk yang bervariasi. Namun, ketika saya mendengar cerita teman saya, ada insight menarik yang saya dapatkan. Sebenarnya orang seperti ini adalah orang yang bisa melihat kesempatan dalam kesempitan, meskipun cara mewujudkannya agak memaksa dan menimbulkan ketidaknyamanan.

Bagaimanapun, saya melihat mereka punya optimisme. Kadangkala ketika kondisi kehidupan mulai sulit dan mengimpit, orang mulai dipaksa untuk menjadi kreatif dalam bertahan hidup, tetapi tidak semua orang bisa memanfaatkan itu.

Masih ada banyak orang yang pada akhirnya tidak bisa (atau tidak mau) berbuat apa-apa dan membiarkan dirinya dilindas oleh kesulitan hidup. Namun, ada juga jenis-jenis manusia 'penyemprot pengharum' yang masih bisa memiliki optimisme dalam hidupnya.

Memiliki optimisme

Mengapa saya menyebut mereka memiliki optimisme? Karena Winston Churchill pernah berkata, "Orang yang pesimistis adalah orang yang selalu melihat masalah di tengah peluang yang terbuka, sementara orang yang optimis adalah orang yang selalu melihat peluang di tengah masalah yang menghadang."

Pernyataan Churchill segera muncul segera setelah saya mendengar cerita teman saya mengenai si penyemprot pengharum itu. Di tengah kesulitan hidup, dia masih bisa melihat peluang dan berusaha bertahan hidup.

Selain itu, dia juga berani bertindak untuk mengejar peluang itu. Tentu saja tidak banyak orang yang punya keberanian untuk melakukan jasa itu. Risikonya bisa saja dia dimaki-maki, dikejar-kejar petugas, dan modalnya membeli pengharum ruangan tidak kembali lantaran tidak ada yang mau memberinya uang. Namun, sekali lagi, saya percaya optimisme dalam dirinyalah yang mendorong dia untuk berani melakukannya.

Sifat pertama dari optimisme adalah ia selalu menghasilkan keberanian. Optimisme bukan sekadar berpikir positif dan memercayai hal-hal yang positif, tapi lebih dari itu, optimisme adalah sebuah tindakan yang menjadi bukti dari pikiran dan kepercayaan positifnya. Apalah artinya Anda meyakini sesuatu yang baik, tetapi Anda tidak pernah bergerak mewujudkan apa yang Anda yakini?

Lihatlah kehidupan orang-orang sukses dan para penemu hebat. Mereka adalah orang-orang yang hidup dengan memakai kacamata optimisme. Ketika orang di sekeliling mereka mulai putus asa dan mencemooh pekerjaan mereka, tetap saja orang hebat itu tidak kehilangan semangat.

Sifat kedua dari optimisme adalah ia selalu menghasilkan antusiasme. Orang yang selalu optimistis tidak pernah kehilangan semangatnya dalam mengejar visi. Lihatlah kehidupan dari Abraham Lincoln, jika Anda memeriksa biografinya di Internet, Anda akan menemukan bahwa dalam sejarah kehidupannya, dia sudah berkali-kali kalah dalam pemilihan di senat dan kongres.

Bahkan, dia pernah mengalami guncangan mental yang parah karena kehilangan kekasihnya. Namun, dia masih sanggup mengejar visinya dan akhirnya berhasil menjadi salah satu presiden yang sangat berpengaruh dalam sejarah politik Amerika. Bisakah dia melakukannya kalau dia memakai kacamata pesimistis?

Sifat ketiga dari optimisme adalah dia selalu menghasilkan kreativitas. Cerita mengenai penyemprot pengharum tadi tentu sudah menjadi contoh yang jelas bagi Anda. Namun, saya akan menceritakan sebuah kisah nyata yang dialami Thomas Alva Edison.

Suatu hari pabrik Edison mengalami kebakaran hebat. Semua dokumentasi atas percobaan yang sedang disempurnakan, terbakar habis. Seluruh pekerja pabriknya sangat sedih dan frustrasi melihat hasil usaha keras mereka habis tak tersisa.

Namun, Edison dengan keyakinan yang teguh berkata kepada mereka, "Ini adalah sebuah bencana yang berharga! Semua cara-cara keliru kita sudah dibakar habis, dan syukur kepada Tuhan, kita bisa memulai lagi semuanya dengan cara baru!"

Tiga minggu kemudian Edison berhasil menemukan phonograph pertama di dunia. Bahkan Hellen Keller, wanita buta pertama yang berhasil menjadi sarjana di Inggris berkata, "No pessimist ever discovered the secrets of the stars, or sailed to an uncharted land, or opened a new heaven to the human spirit."

Optimisme adalah sebuah aset tersembunyi yang dimiliki oleh siapa pun. Masalahnya apakah kita memilih untuk menggunakannya atau menguburnya dalam-dalam? Menjadi orang optimis memang selalu mengundang risiko untuk dicemooh dan dihina.

Fakta ini memang sudah diungkapkan oleh Vilfreddo Paretto bahwa dunia ini terdiri dari 80% pecundang dan 20% pemenang. Jika Anda memilih menjadi orang optimis, akan banyak orang-orang pesimis yang akan menjadi penghalang dan menurunkan semangat Anda, tetapi Anda sudah bisa melihat hasilnya bukan? Hanya orang optimistislah yang bisa berdiri di atas puncak gunung tertinggi.
Sekarang, bergantung pada Anda, apakah Anda ingin berada di golongan optimistis atau pesimis?

Seperti kata-kata dari Harvey Mackay, "Optimists are right. So are pessimists. It's up to you to choose which you will be." Sumber: https://web-beta.archive.org/web/20081218152558/http://web.bisnis.com:80/kolom/2id1727.html
Post a Comment

Popular posts from this blog

31 Exhibition Stand Designs by Lansa Brazil

Exhibition stand designs - best tool for promoting products and services